728x90 AdSpace

iframe frameborder="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppa.php?id_blog=16756&sz=728x90" width="738px" height="100px" marginwidth=0 marginheight=0 >
Latest News

Peradilan Rakyat
Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang
cemerlang mengunjungi
ayahnya, seorang pengacara
senior yang sangat dihormati
oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai
putramu," kata pengacara muda
itu, "aku datang ke mari sebagai
seorang pengacara muda yang
ingin menegakkan keadilan di
negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang
dan jenggot memutih itu, tidak
terkejut. Ia menatap putranya
dari kursi rodanya, lalu
menjawab dengan suara yang
tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang,
anak muda?"
Pengacara muda tertegun.
"Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai
putraku, tetapi kamu sebagai
ujung
tombak pencarian keadilan di
negeri yang sedang dicabik-
cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda
mengerti maksudku."
"Tentu saja. Aku juga pernah
muda seperti kamu. Dan aku juga
berani, kalau perlu kurang ajar.
Aku pisahkan antara urusan
keluarga dan kepentingan
pribadi dengan perjuangan
penegakan keadilan. Tidak
seperti para pengacara sekarang
yang kebanyakan berdagang.
Bahkan tidak seperti para elit
dan cendekiawan yang
cemerlang ketika masih di luar
kekuasaan, namun menjadi lebih
buas dan keji ketika memperoleh
kesempatan untuk menginjak-
injak keadilan dan kebenaran
yang dulu diberhalakannya.
Kamu pasti tidak terlalu jauh dari
keadaanku waktu masih muda.
Kamu sudah membaca riwayat
hidupku yang belum lama ini
ditulis di sebuah kampus di luar
negeri bukan? Mereka
menyebutku Singa Lapar. Aku
memang tidak pernah berhenti
memburu pencuri-pencuri
keadilan yang bersarang di
lembaga-lembaga tinggi dan
gedung-gedung bertingkat.
Merekalah yang sudah membuat
kejahatan menjadi budaya di
negeri ini. Kamu bisa banyak
belajar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum.
Ia mengangkat dagunya,
mencoba memandang pejuang
keadilan yang kini seperti macan
ompong itu, meskipun sisa-sisa
keperkasaannya masih terasa.
"Aku tidak datang untuk
menentang atau memuji Anda.
Anda dengan seluruh sejarah
Anda memang terlalu besar
untuk dibicarakan. Meskipun
bukan bebas dari kritik. Aku
punya sederetan koreksi
terhadap kebijakan-kebijakan
yang sudah Anda lakukan. Dan
aku terlalu kecil untuk
menentang bahkan juga terlalu
tak pantas untuk memujimu.
Anda sudah tidak memerlukan
cercaan atau pujian lagi. Karena
kau bukan hanya penegak
keadilan yang bersih, kau yang
selalu berhasil dan sempurna,
tetapi kau juga adalah keadilan
itu sendiri."
Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu
aku dan memanggilku kau.
Berarti kita bisa bicara sungguh-
sungguh sebagai profesional,
Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari
hasil gemblenganmu yang tidak
kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan
puji-pujianmu!" potong
pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia
tersadar pada kekeliruannya lalu
minta maaf.
"Tidak apa. Jangan surut. Katakan
saja apa yang hendak kamu
katakan," sambung pengacara
tua menenangkan, sembari
mengangkat tangan, menikmati
juga pujian itu, "jangan
membatasi dirimu sendiri.
Jangan membunuh diri dengan
diskripsi-diskripsi yang akan
menjebak kamu ke dalam
doktrin-doktrin beku, mengalir
sajalah sewajarnya bagaikan
mata air, bagai suara alam,
karena kamu sangat diperlukan
oleh bangsamu ini."
Pengacara muda diam beberapa
lama untuk merumuskan diri.
Lalu ia meneruskan ucapannya
dengan lebih tenang.
"Aku datang kemari ingin
mendengar suaramu. Aku mau
berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah
sebebas-bebasnya."
"Terima kasih. Begini. Belum lama
ini negara menugaskan aku
untuk membela seorang
penjahat besar, yang
sepantasnya mendapat hukuman
mati. Pihak keluarga pun datang
dengan gembira ke rumahku
untuk mengungkapkan
kebahagiannya, bahwa pada
akhirnya negara cukup adil,
karena memberikan seorang
pembela kelas satu untuk
mereka. Tetapi aku tolak mentah-
mentah. Kenapa? Karena aku
yakin, negara tidak benar-benar
menugaskan aku untuk
membelanya. Negara hanya ingin
mempertunjukkan sebuah teater
spektakuler, bahwa di negeri
yang sangat tercela hukumnya
ini, sudah ada kebangkitan baru.
Penjahat yang paling kejam,
sudah diberikan seorang
pembela yang perkasa seperti
Mike Tyson, itu bukan istilahku,
aku pinjam dari apa yang diobral
para pengamat keadilan di koran
untuk semua sepak-terjangku,
sebab aku selalu berhasil
memenangkan semua perkara
yang aku tangani.
Aku ingin berkata tidak kepada
negara, karena pencarian
keadilan tak boleh menjadi
sebuah teater, tetapi mutlak
hanya pencarian keadilan yang
kalau perlu dingin danbeku. Tapi
negara terus juga mendesak
dengan berbagai cara supaya
tugas itu aku terima. Di situ aku
mulai berpikir. Tak mungkin
semua itu tanpa alasan. Lalu aku
melakukan investigasi yang
mendalam dan kutemukan
faktanya. Walhasil, kesimpulanku,
negara sudah memainkan
sandiwara. Negara ingin
menunjukkan kepada rakyat dan
dunia, bahwa kejahatan dibela
oleh siapa pun, tetap kejahatan.
Bila negara tetap dapat
menjebloskan bangsat itu
sampai ke titik terakhirnya
hukuman tembak mati,
walaupun sudah dibela oleh tim
pembela seperti aku, maka
negara akan mendapatkan
kemenangan ganda, karena
kemenangan itu pastilah
kemenangan yang telak dan
bersih, karena aku yang menjadi
jaminannya. Negara hendak
menjadikan aku sebagai
pecundang. Dan itulah yang aku
tentang.
Negara harusnya percaya bahwa
menegakkan keadilan tidak bisa
lain harus dengan keadilan yang
bersih, sebagaimana yang sudah
Anda lakukan selama ini."
Pengacara muda itu berhenti
sebentar untuk memberikan
waktu pengacara senior itu
menyimak. Kemudian ia
melanjutkan.
"Tapi aku datang kemari bukan
untuk minta pertimbanganmu,
apakah keputusanku untuk
menolak itu tepat atau tidak. Aku
datang kemari karena setelah
negara menerima baik
penolakanku, bajingan itu sendiri
datang ke tempat kediamanku
dan meminta dengan hormat
supaya aku bersedia untuk
membelanya."
"Lalu kamu terima?" potong
pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia
menatap pengacara tua itu
dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"
Pengacara tua mengelus
jenggotnya dan mengangkat
matanya melihat ke tempat yang
jauh. Sebentar saja, tapi seakan
ia sudah mengarungi jarak
ribuan kilometer. Sambil
menghela napas kemudian ia
berkata: "Sebab aku kenal siapa
kamu."
Pengacara muda sekarang
menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku
seorang profesional. Sebagai
seorang pengacara aku tidak
bisa menolak siapa pun
orangnya yang meminta agar
aku melaksanakan kewajibanku
sebagai pembela. Sebagai
pembela, aku mengabdi kepada
mereka yang membutuhkan
keahlianku untuk membantu
pengadilan menjalankan proses
peradilan sehingga tercapai
keputusan yang seadil-adilnya."
Pengacara tua mengangguk-
anggukkan kepala tanda
mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu
tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah
mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia
menatap, mencoba mengetahui
apa yang ada di dalam lubuk hati
orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus
janggutnya.
"Jangan dulu mempersoalkan
kebenaran. Tapi kau telah
menunjukkan dirimu sebagai
profesional. Kau tolak tawaran
negara, sebab di balik tawaran
itu tidak hanya ada usaha
pengejaran pada kebenaran dan
penegakan keadilan
sebagaimana yang kau kejar
dalam profesimu sebagai ahli
hukum, tetapi di situ sudah ada
tujuan-tujuan politik. Namun,
tawaran yang sama dari seorang
penjahat, malah kau terima baik,
tak peduli orang itu orang yang
pantas ditembak mati, karena
sebagai profesional kau tak bisa
menolak mereka yang minta
tolong agar kamu membelanya
dari praktik-praktik pengadilan
yang kotor untuk menemukan
keadilan yang paling tepat. Asal
semua itu dilakukannya tanpa
ancaman dan tanpa sogokan
uang! Kau tidak membelanya
karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"
"Tidak ada kemenangan di dalam
pemburuan keadilan. Yang ada
hanya usaha untuk mendekati
apa yang lebih benar. Sebab
kebenaran sejati, kebenaran
yang paling benar mungkin
hanya mimpi kita yang tak akan
pernah tercapai. Kalah-menang
bukan masalah lagi. Upaya untuk
mengejar itu yang paling
penting. Demi memuliakan
proses itulah, aku menerimanya
sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.
"Seperti yang kamu katakan tadi,
salah atau benar juga tidak
menjadi persoalan. Hanya ada
kemungkinan kalau kamu
membelanya, kamu akan berhasil
keluar sebagai pemenang."
"Jangan meremehkan jaksa-jaksa
yang diangkat oleh negara. Aku
dengar sebuah tim yang sangat
tangguh akan diturunkan."
"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai,
bagaimana bisa tahu aku akan
menang."
"Sudah bertahun-tahun aku
hidup sebagai pengacara.
Keputusan sudah bisa dibaca
walaupun sidang belum mulai.
Bukan karena materi perkara itu,
tetapi karena soal-soal
sampingan. Kamu terlalu besar
untuk kalah saat ini."
Pengacara muda itu tertawa
kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"
Pengacara muda itu tersenyum
dan manggut-manggut. Yang tua
memicingkan matanya dan mulai
menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela
penjahat itu, bukan karena takut,
bukan?"
"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam
kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar,
pada akhirnya juga adalah
sebuah ancaman. Dia tidak
memberikan angka-angka?"
"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan
berapa mereka akan
membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang
dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia
sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai
menang?"
"Negara akan mendapat
pelajaran penting. Jangan main-
main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan
perkara itu?"
Pengacara muda itu tak
menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya
dan aku akan menang!"
Orang tua itu terkejut. Ia
merebahkan tubuhnya
bersandar. Kedua tangannya
mengurut dada. Ketika yang
muda hendak bicara lagi, ia
mengangkat tangannya.
"Tak usah kamu ulangi lagi,
bahwa kamu melakukan itu
bukan karena takut, bukan
karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa
ancaman dan tanpa sogokan.
Aku tidak takut."
"Dan kamu menerima tanpa
harapan akan mendapatkan
balas jasa atau perlindungan
balik kelak kalau kamu perlukan,
juga bukan karena kamu ingin
memburu publikasi dan bintang-
bintang penghargaan dari
organisasi kemanusiaan di
mancanegara yang benci
negaramu, bukan?"
"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak
muda. Tak perlu kamu bimbang.
Keputusanmu sudah tepat.
Menegakkan hukum selalu
dirongrong oleh berbagai
tuduhan, seakan-akan kamu
sudah memiliki pamrih di luar
dari pengejaran keadilan dan
kebenaran. Tetapi semua
rongrongan itu hanya akan
menambah pujian untukmu
kelak, kalau kamu mampu terus
mendengarkan suara hati
nuranimu sebagai penegak
hukum yang profesional."
Pengacara muda itu ingin
menjawab, tetapi pengacara tua
tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu
dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih
baik kamu pulang sekarang.
Biarkan aku bertemu dengan
putraku, sebab aku sudah sangat
rindu kepada dia."
Pengacara muda itu jadi amat
terharu. Ia berdiri hendak
memeluk ayahnya. Tetapi orang
tua itu mengangkat tangan dan
memperingatkan dengan suara
yang serak. Nampaknya sudah
lelah dan kesakitan.
"Pulanglah sekarang. Laksanakan
tugasmu sebagai seorang
profesional."
"Tapi..."
Pengacara tua itu menutupkan
matanya, lalu menyandarkan
punggungnya ke kursi.
Sekretarisnya yang jelita,
kemudian menyelimuti tubuhnya.
Setelah itu wanita itu menoleh
kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus
diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu
banyak beristirahat. Selamat
malam."
Entah karena luluh oleh senyum
di bibir wanita yang memiliki
mata yang sangat indah itu,
pengacara muda itu tak mampu
lagi menolak. Ia memandang
sekali lagi orang tua itu dengan
segala hormat dan cintanya. Lalu
ia mendekatkan mulutnya ke
telinga wanita itu, agar suaranya
jangan sampai membangunkan
orang tua itu dan berbisik.
"Katakan kepada ayahanda,
bahwa bukti-bukti yang sempat
dikumpulkan oleh negara terlalu
sedikit dan lemah. Peradilan ini
terlalu tergesa-gesa. Aku akan
memenangkan perkara ini dan
itu berarti akan membebaskan
bajingan yang ditakuti dan
dikutuk oleh seluruh rakyat di
negeri ini untuk terbang lepas
kembali seperti burung di udara.
Dan semoga itu akan membuat
negeri kita ini menjadi lebih
dewasa secepatnya. Kalau tidak,
kita akan menjadi bangsa yang
lalai."
Apa yang dibisikkan pengacara
muda itu kemudian menjadi
kenyataan. Dengan gemilang dan
mudah ia mempecundangi
negara di pengadilan dan
memerdekaan kembali raja
penjahat itu. Bangsat itu tertawa
terkekeh-kekeh. Ia merayakan
kemenangannya dengan pesta
kembang api semalam suntuk,
lalu meloncat ke mancanegara,
tak mungkin dijamah lagi. Rakyat
pun marah. Mereka terbakar dan
mengalir bagai lava panas ke
jalanan, menyerbu dengan yel-yel
dan poster-poster raksasa.
Gedung pengadilan diserbu dan
dibakar. Hakimnya diburu-buru.
Pengacara muda itu diculik,
disiksa dan akhirnya baru
dikembalikan sesudah jadi
mayat. Tetapi itu pun belum
cukup. Rakyat terus mengaum
dan hendak menggulingkan
pemerintahan yang sah.
Pengacara tua itu terpagut di
kursi rodanya. Sementara
sekretaris jelitanya membacakan
berita-berita keganasan yang
merebak di seluruh wilayah
negara dengan suaranya yang
empuk, air mata menetes di pipi
pengacara besar itu.
"Setelah kau datang sebagai
seorang pengacara muda yang
gemilang dan meminta aku
berbicara sebagai profesional,
anakku," rintihnya dengan amat
sedih, "Aku terus membuka pintu
dan mengharapkan kau datang
lagi kepadaku sebagai seorang
putra. Bukankah sudah aku
ingatkan, aku rindu kepada
putraku. Lupakah kamu bahwa
kamu bukan saja seorang
profesional, tetapi juga seorang
putra dari ayahmu. Tak inginkah
kau mendengar apa kata
seorang ayah kepada putranya,
kalau berhadapan dengan
sebuah perkara, di mana
seorang penjahat besar yang
terbebaskan akan menyulut
peradilan rakyat seperti bencana
yang melanda negeri kita
sekarang ini?" ***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Rating: 5 Reviewed By: Agus setyadi