728x90 AdSpace

iframe frameborder="0" src="http://sebar.idblognetwork.com/psg_ppa.php?id_blog=16756&sz=728x90" width="738px" height="100px" marginwidth=0 marginheight=0 >
Latest News

puisi Chairil Anwar

DIPONEROGO
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tujan menanti
Tak gentar.lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan,keris di kiri.
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda.

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.

Maju
Serbu
Serang
Terjang
Februari 1943


TAK SEPADAN
Aku kira
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin.beranak dan berbahgia
Sedangkan aku mengembara serupa Ahasveros.

Di kutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terpuka.

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak’kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.
Februari 1943


SIA-SIA
Penghabisan kali itu kau datang
Membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih.
Darah dan suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti

Sehari itu kita bersama.tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau member
Mampus kau di koyak-koyak sepi.
Februari 1943

AJAKAN
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepada sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
Februari 1943

SENDIRI
Hidupnya tambah sepi,tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci.dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut.mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama.

Terkejut ia terduduk.siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: ibu! Ibu!
Februari 1943

PERLARIAN
I

Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa di sini

Dalam lari
Di hempaskannya pintu keras tak terhingga

Hancur-luluh sepi seketika
Dan panduan duja jiwa.

II
Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
“mau apa? Rayu dan pelupa ,
Aku ada ! pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungai sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja!”

Tak kuasa – terengkam
Ia dicengkam malam
Februari 1943


SUARA MALAM
Dunia badai dan topan
Manusia mengingatkan “ kebakaran di hutan”
Jadi kemana
Untuk damai dan reda?
Mati.
Barang kali ini diam kaku saja
Dengan ketenangan selama bersatu
Mengatasi suka duka
Kekebalan terhadap debu dan nafsu
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di dasar lautan
Jemu di pukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam tiada
Dan sekali akan menghadap cahaya,
…………………………………….
Ya Allah ! badanku terbakar-segala samar
Aku sudah melewati batas.
Kembali?pintu tertutup dengan keras
Februari 1943

Ciptaan alm.R.Saleh
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: puisi Chairil Anwar Rating: 5 Reviewed By: Agus setyadi